Tampilkan postingan dengan label pengairan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengairan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2016

INFO CARA MENANAM ANGGUR DI PEKARANGAN

INFO CARA MENANAM ANGGUR DI PEKARANGAN



Buah Anggur atau nama ilmiahnya Vitis vinifera atau kalau bahasa inggrisnya disebut grape bukan wine merupakan tanaman asli di daerah sub tropis. Namun anggur bisa juga dibudidayakan di daerah tropis seperti di Indonesia. Anggur termasuk tanaman yang cukup mudah dibudidayakan. Bahkan di beberapa daerah sudah menjadi sentra perkebunan anggur. Nah saat ini kita coba bahas bagaimana bertanam anggur di halaman rumah atau di pekarangan rumah yang lahannya terbatas. Karena Anggur adalah tanaman merambat dan ukurannya juga tidak sebesar pohon mangga, otomatis untuk hanya memerlukan lahan yang sedikit saja, ukuran 50 x 50 x 50 cm sudah cukup untuk setiap pohon. Anggur umunya bisa tumbuh dan berbuah dengan baik di daerah-daeraah yang musim keringnya panjang seperti di sentra anggur probolinggo jawa timur yang panas.

Bibit Anggur
Bibit anggur sangat mudah didapatkan. Anda bisa menghubungi penjual tanaman hias di kota anda, dan bisa pesan bibit anggur dengan harga yang terjangkau. Saat ini bibit anggur hijau dan merah cukup terjangkau harganya, sekitar Rp 10.000 s/d 15.000 per pohon.

Penyiapan Lahan 

Untuk membudidayakan tanaman anggur, kita mulai dengan pembuatan media tanaman berupa pembuatan lubang 50 x 50 x 50 cm yang dibiarkan 2-3 minggu, diisi tanah, pasir dan pupuk kandang dengan komposisi 1:1:2.

Pada beberapa lokasi, Tanaman anggur paling baik ditanam pada bulan April-Juni, bibit tananam anggur di polybag dibuka pelan-pelan dengan silet atau gunting lalu dimasukkan ke tanah hingga rata dengan tanah. Pembukaan polybag harus pelan-pelan dan jangan sampai merusak akar tanaman anggur.

Tanaman anggur memang membutuhkan air namun jangan sampai terjadi genangan air. Sejak awal pertumbuhan disiram 2 kali sehari, kecuali hujan, dan sebulan sebelum dipangkas, penyiraman agar dihentikan.

Dua-tiga hari setelah dipangkas, tanaman disiram air lagi sebanyak-banyaknya. Seminggu sebelum penen, pengairan dihentikan dan 4 hari sebelum panen harus segera diairi lagi hingga tanahnya cukup basah.

Setelah tanaman berumur satu tahun, tunas cabang pokok disebut cabang primer dipangkas dan disisakan 0,5 meter. Tunas cabang sekunder menghasilkan cabang tersier yang tumbuh bersama bunga yang selanjutnya menghasilkan buah. Bersamaan dengan pemangkasan, semua daun dihilangkan/dipotong. Tunas-tunas tersier diatur agar bentuknya seperti sirip.

Hingga tanaman berumur 1 tahun, dipupuk dengan pupuk yang berunsur N (urea), dilakukan setiap 10 hari sekali sampai berumur 3 bulan, pemupukan 10 gram/pohon. Selanjutnya, tanaman 3-6 bulan butuh 15 gr/pohon setiap 15 hari sekali, 6-12 bulan butuh 50 gr/pohon setiap 30 hari sekali. Setelah tanaman berumur 4 tahun, pemupukan diberikan setahun sekali menjelang pemangkasan pembuahan.

Beberapa hal yang juga patut diperhatikan dalam pembudidayaan tanaman anggur, bulan Maret-April biasanya buahnya sedikit karena tidak sedang musim bunga, Juli-Agustus biasanya buahnya banyak, dalam memotong cabang subur ditinggalkan 4-10 mata tunas. Cabang yang dipangkas harus meneteskan air, bila tidak pemangkasan ditunda.

Selain itu, tunas yang tumbuh di atas bunga sebaiknya dipangkas, bila buhnya sudah besar sebesar biji asem, sebaiknya dilakukan penjarangan sebanyak 40-50 persen. Agar buah tak diserang hama, buahnya sebaiknya dibungkus dengan kertas semen atau kantong plastik transparan. Buah siap panen setelah pemangkasan bunga 105- 110 hari.

Sumber: tipspetani.blogspot.co.id

Cara Menanam Kacang Panjang Yang Baik Dan Benar

Cara Menanam Kacang Panjang Yang Baik Dan Benar



Kacang panjang (Vigna sinensis), adalah tanaman yang masuk kedalam golongan famili leguminosa. Golongan tanaman ini seringkali dimanfaatkan para petani untuk memulihkan kandungan nitrogen tanah dengan cara menjadikannya tanaman sela. Namun, disamping fungsinya sebagai tanaman sela, bercocok tanam kacang panjang juga berpotensi dari sisi ekonomi. Apalagi kacang panjang memiliki kemampuan adaptasi terhadap iklim yang baik, sehingga dapat ditanam di sepanjang musim.

Sayuran berbentuk panjang ini, menyukai udara yang panas, karena itu, pertumbuhannya akan lebih optimal jika berada di rentang suhu 15-24oC dan curah hujan 600-1500 mm per tahun. Kacang panjang juga sangat menyukai tipe tanah dengan drainase yang baik, gembur, serta terkena sinar matahari secara langsung.

Kacang panjang sama seperti halnya tanaman palawija lainnya, mudah ditanam dan gampang perawatannya. Tetapi bukan berarti boleh dibiarkan tumbuh begitu saja. Karena untuk bisa memperoleh hasil yang maksimal, ada langkah-langkah yang mesti dilakukan. Berikut ini langkah-langkah dan cara menanam kacang panjang yang benar :

1. Pemilihan Benih

Benih kacang panjang yang akan dikembangkan, sebelumnya harus sudah matang dari pohon. Benih tersebut kemudian dijemur hingga kering di bawah sinar matahari, dikupas dan dijemur lagi. Setelah melalui proses tersebut, biji kacang panjang bisa langsung ditanam tanpa harus melalui proses penyemaian. Namun, jika cara tersebut dirasa kurang, benih kacang panjang sesuai pilihan bisa dibeli di tempat penjual tanaman.

Untuk mengetahui benih kacang panjang yang baik, perhatikan ciri-ciri benih berikut ini:

a. Biji memiliki bentuk yang lebih besar atau sekitar 80% dari biji kacang pada umumnya. Biji seperti ini memiliki daya tumbuh yang tinggi.

b. Biji yang akan dijadikan benih harus murni, artinya tidak tercampur biji-biji lain yang berasal dari varietas tidak jelas.

c. Umur benih harus cukup tua serta bernas.

d. Benih harus bebas atau tahan dari hama penyakit dan memiliki daya produksi yang tinggi.

2. Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah dilakukan dengan dengan cara mencangkul atau membajaknya sedalam +/- 30 cm. Biarkan tanah yang sudah digemburkan tersebut terbuka selama +/- 4 hari guna memberi kesempatan tanah untuk bernapas. Selanjutnya, buatlah bedengan berukuran panjang 8-10 meter, lebar 1-3 meter, dan tingi 20-30 cm.

3. Penanaman

Penanaman kacang panjang biasanya dilakukan pada akhir musim hujan, dengan tujuan agar tanaman mendapatkan air dengan mudah, serta tidak busuk disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Penanaman dapat juga dilakukan pada musim kemarau asalkan air untuk pengairan bisa diperoleh dengan mudah.

Begitu tanah siap ditanami, buatlah lubang tanam menggunakan tugal dengan jarak tanam 30 x 60 cm, atau sesuai dengan keinginan. Isi lubang-lubang tersebut dengan 2-3 biji benih dan tutup lubang dengan tanah tipis-tipis agar benih bisa tumbuh ke atas tanah dengan mudah.

Sambil menunggu tumbuhnya benih, siapkan lanjaran atau tongkat dari bambu atau kayu dengan panjang sekitar 2 meter. Lanjaran ini dibutuhkan karena kacang panjang adalah tanaman yang tumbuh merambat dan membelit. Setelah 4-5 hari sejak ditanam, bibit kacang panjang akan menjulur tumbuh ke atas tanah. Jika ada bibit yang tidak tumbuh, gantilah segera dengan bibit yang baru.


4.Perawatan

Dalam proses pertumbuhannya, ketika tanaman mencapai ketinggian 25 cm, pada umumnya tanaman akan membelit lanjaran. Jika ternyata ada tanaman yang merambat ke tanah, bantu tanaman itu dengan mengikatkannya pada lanjaran menggunakan tali rafia agar pertumbuhannya merambat pada lanjaran tersebut.

a. Pengairan

Perhatikan pula penyiraman atau pengairan bagi tanaman. Untuk lahan yang memiliki irigasi, penyiraman dapat dilakukan dengan cara menggenangi lahan dengan air. Setelah seluruh permukaan tanah lembab, keluarkan lagi aliran air dari areal lahan penanaman. Sedang untuk lahan tadah hujan, penyiraman harus dilakukan dengan cara manual, utamanya pada awal pertumbuhan benih.

b. Penyiangan.

Penyiangan dilakukan jika di dalam bedengan tumbuh gulma dan rumput liar, utamanya pada awal pertumbuhan tanaman, guna menghindari persaingan dalam memperoleh nutrisi.

c. Pemupukan

Pemupukan dilakukan di awal masa tanam dan disaat tanaman berumur 15 – 20 hari. Pemupukan di awal masa tanam dilakukan sewaktu pengolahan tanah. Caranya dengan memberikan pupuk kandang sebagai pupuk dasar sebanyak 10 ton/hektar. Dapat juga ditambah dengan pupuk buatan, dengan dosis perhektar sebanyak 125 kg KC1, 200 kg TSP, dan 50 kg Urea.

Untuk pemupukan tambahan ketika tanaman berumur 15 – 20 hari, ketiga pupuk buatan dengan dosis yang sama tersebut dapat pula digunakan. Tetapi yang utama adalah menggunakan pupuk kompos dengan komposisi 20 ton untuk setiap hektar lahan. Pupuk kompos tersebut disebar di sekitar tanaman, kemudian ditimbun dengan tanah sekaligus untuk meninggikan bedengan.

Jika diperlukan, dapat pula menyemprotkan pupuk organik cair pada tanaman, guna merangsang keluarnya bunga. Pupuk organik tersebut terlebih dahulu dilarutkan ke dalam air, dengan dosis 1 liter pupuk organik untuk 10 liter air. Larutan hasil campuran pupuk organik dengan air tersebut kemudian disemprotkan ke tanaman. Untuk setiap satu liter larutan pupuk dapat digunakan untuk menyemprot 10 m2 lahan tanam.

5. Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit adalah salah satu faktor yang mengurangi produktivitas kacang panjang. Hama dan penyakit tersebut diantaranya adalah:

a. kutu hitam dan kutu putih,

b. kepik daun,

c. penggerek polong,

d. ulat grayak,

e. serta penyakit karat dan bercak daun Cercospora.

Untuk menangani hama dan penyakit tersebut, dapat dilakukan secara organic, yakni dengan menggunakan pestisida hayati. Namun, penanganan lewat cara ini biasanya tidak berlangsung lama, itu sebabnya dibutuhkan penanganan secara manual, yakni dengan pengambilan kumbang secara manual. Pada lahan seluas 1002 m, biasanya terdapat kumbang sekitar 50 – 100 ekor.

[​IMG]

7. Panen dan Pasca Panen

Setelah berumur 45 – 50 hari, kacang panjang siap untuk dipanen. Ketika itu warna kacang panjang hijau keputihan. Untuk memanennya dilakukan secara periodik dengan cara dipetik. Cara memetik juga harus diperhatikan, agar bunga tidak rusak saat dilakukan pemetikan. Caranya adalah dengan mematahkan tangkai buah kea rah yang berlawanan atau dengan cara memutar buah hingga lepas dari tangkai.

Kacang panjang yang telah dipanen selanjutnya dikumpulkan di tempat penampungan untuk disortasi. Setelah diikat dengan bobot sebagaimana yang diinginkan, kacang panjang tersebut siap untuk dipasarkan.

Sumber:www.kebunpedia.com

Ini Bedanya Sistem Pertanian Organik Dan Anorganik

Ini Bedanya Sistem Pertanian Organik Dan Anorganik
Ini Bedanya Sistem Pertanian Organik Dan Anorganik – Saat ini, bahan-bahan makanan yang berasal dari pertanian organik sedang populer di masyarakat Indonesia.

Maka tak heran, jika sejak dua tahun terakhir banyak sayuran-sayuran, buah-buahan organik yang dijual di pasar tradisional dan pasar modern.

Sebenarnya jika dipelajari, sayuran dan buah organik merupakan hasil dari pertanian organik dengan cara bercocok tanam tanpa menggunakan bahan kimia.

Sehingga mampu menghasilkan bahan pangan yang bergizi tinggi, sehat, tanpa bahan kimia, dan tidak merusak lingkungan disekitar pertanian.
Selain itu, masyarakat yang mulai mengutamakan kesehatan dengan mulai memilih bahan pangan organik.

Menjadi faktor penting semakin bertambah petani yang menerapkan sistim pertanian organik, karena dengan banyaknya masyarakat yang lebih memilih bahan pangan organik membuat permintaan bahan pangan organik semakin meningkat dan menjadi ladang bisnis yang menguntungkan bagi petani.

Saat ini pemerintah Indonesia sedang berusaha menerapkan program pangan sehat, untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat menggunakan bahan pangan organik dan menyarankan para petani agar menggunakan teknik pertanian organik dari pada sistem pertanian anorganik (konvensional).

Pada dasarnya, pertanian organik dan anorganik menggunakan teknik yang hampir sama. Namun, yang menjadikan keduanya berbeda adalah penggunaan pupuk. Jika di pertanian organik bahan-bahan dasar yang digunakan bersifat aman dan tidak merusak alam, karena bahan dasar pembuatannya dari alam.

Sedangkan pupuk anorganik lebih banyak menggunakan bahan-bahan yang terbuat dari kimia, sehingga proses panen tanaman lebih cepat.

Perbedaan pertanian organik dan pertanian anorganik dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain ;

Proses Persiapan dan Pemilihan Bibit
Bibit pada pertanian organik berasal dari tanaman alami, namun pada pertanian anorganik bibit berasal dari hasil rekayasa atau persilangan genetik.

Proses Pengolahan Tanah
Pada pertanian Anorganik sebagian besar menggunakan traktor mesin, sehingga tanah menjadi padat dan mengakibatkan organisme tanah mati.

Sedangkan pada pertanian organik  tanah diolah seminimal mungkin, sehingga organime tanah tetap hidup dan memperkecil risiko kerusakan tanah.

Proses Persemaian atau Persiapan Penanaman Bibit
Pertanian organik dilakukan secara alami tanpa pestisida, sedangkan pertanian Anorganik dilakukan dengan pestisida dan bahan kimia.

Proses Penanaman
Pada pertanian organik saat proses penanaman hingga panen menggunakan teknik sejenis Bibit dan tidak ada kombinasi, sementara di pertanian organik terdapat macam-macam jenis tanaman dengan kombinasi tanaman pendamping dan tentunya menggunakan penataan tanaman yang lebih baik dari pertanian organik.

Proses Pengairan
Pertanian organik menggunakan air bersih dan bebas dari bahan kimia untuk pengairan, sedangkan pada pertanian organik menggunakan air yang sudah dicampur dengan pestisida dan bahan kimia untuk menjaga tanaman tetap sehat serta mempercepat pertumbuhan.

Proses Pemupukan
Pertanian anorganik menggunakan pupuk kimia buatan pabrik, sedangkan sebagian besar pertanian organik menggunakan pupuk kandang dan kompos buatan petani sendiri.

Proses Pengendalian Hama dan Penyakit
Pertanian organik menggunakan pestisida dan zat kimia lainnya, sedangkan pertanian organik menggunakan pengendalian dengan manual dan pertimbangan alam.

Proses Panen Produksi
Hasil panen pertanian organik lebih bersih dan sehat untuk dikonsumsi, sementara hasil  pertanian anorganik kurang baik dan kemungkinan sudah tercemar zat kimia.

Sumber: agroteknologi.web.id