Minggu, 16 Oktober 2016

Budidaya Melon Buah Primadona Musim Kemarau

Budidaya Melon Buah Primadona Musim Kemarau


Budidaya melon buah primadona musim kemarau – Cuaca terik musim kemarau (panas) paling enak makan buah-buahan yang mengandung air, salah satunya melon. Buah melon memang menjadi salah satu primadona kala musim kemarau. Tidak heran berapapun jumlah buah yang diproduksi / dipanen petani langsung habis untuk memenuhi pesanan pedagang besar untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia.

Melihat besarnya peluang pasar dari buah melon, banyak petani yang tergiur mengembangkan atau membudidayakan tanaman melon. Tetapi bukan perkara mudah untuk membudidayakan tanaman melon. Karena butuh perawatan intensif kalau mau panen raya. Perawatan intensif tersebut berbanding lurus dengan modal yang harus dikeluarkan. Petani bisa mengeluarkan biaya lebih dari Rp 100 juta untuk budidaya 45 kepek benih dengan luas area tanam bisa mencapai dua hektare.

Biaya mahal karena perawatan dilakukan setiap hari. Petani melakukan penyemprotan berbagai jenis pestisida, fungisida dan pupuk daun. Bahkan untuk memudahkan perawatan, petani membangun gubuk di tengah hamparan untuk tempat tinggal selama masa budidaya. Melon merupakan tanaman rentan penyakit. Paling riskan adalah serangan jamur. Kalau sampai terlambat penanganan pasti akan gagal panen.

Budidaya melon diawali dengan persiapan lahan. Banyak petani yang memanfaatkan sawah yang dibiarkan kering oleh pemiliknya. Contohnya para petani Kulonprogo yang memanfaatkan sawah di Kecamatan Purwodadi, Bagelen  dan Ngombol Purworejo. Para petani tersebut menyewa kepada petani pemilik lahan Rp 800 ribu per hektare selama satu musim tanam.

Kebanyakan petani tidak menggunakan mulsa plastik, melainkan langsung membuat gundukan tanah. Bibit ditanam di gundukan itu, lalu dibiarkan tumbuh, sulurnya akan menjalar ke sekitarnya. Jarak antar gundukan kurang lebih satu meter.

Selesai persiapan lahan lahan, dimulailah penanaman. Adapun untuk penyiraman, petani membuat sumur bor dan menyedotnya menggunakan mesin pompa. Lapisan tanah sawah terutama di dekat pesisir mudah menyerap air karena ada sedikit pasir sehingga tanaman terhindar dari genangan.

Untuk penyemprotan, dilakukan rutin setiap hari menggunakan mesin sprayer. Karena penggunaan mesin ini menurut banyak petani lebih mudah dalam proses mengingat luasnya area budidaya yang harus ditangani.

Dalam dua bulan, buah melon tumbuh seberat 1 – 2 kilogram per butir dengan guratan jaring di permukaan kulitnya. Melon memiliki kadar gula hingga 14 persen dan mengandung banyak air. Setiap hektare lahan melon mampu menghasilkan hingga 25 ton buah, itulah jenis super, pasar sangat menyukai.

Tetapi hasil bagus terkadang tidak berbanding lurus dengan pendapatan. Harga pasar untuk buah melon mempengaruhi hasil yang akan mereka peroleh. Untuk budidaya tahun 2015, hasil yang didapat petani melon kurang menggembirakan.

Pedagang membeli melon Rp 16 juta per truk atau seberat kurang lebih 6,5 ton. Padahal biasanya pedagang mau membeli dengan harga Rp 28 juta per truk apabila sedang kemarau panjang. Menurut pedagang yang membeli melon, karena panen raya melon di mana-mana mengakibatkan kota-kota besar di Indonesia juga diserbu oleh melon-melon dari daerah lain yang sedang panen melon juga.

Kendati budidaya melon selalu dihantui ketidakpastian, namun para petani khususnya yang dari Kulonprogo ini tidak ada kapok-kapoknya untuk membudidayakan melon. Karena berhubung lahan di Kulonprogo sudah penuh oleh melon maka para petani banyak yang menginvasi ke lahan di Kabupaten Purworejo. Tanah di Kabupaten Purworejo cocok untuk melon selain karena struktur tanahnya, sawahnya juga masih subur akibat ada sisa pupuk dari budidaya padi sebelumnya.

Demikian info peluang usaha tentang budidaya melon buah primadona musim kemarau semoga bermanfaat.

Sumber: solehagus.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar