Tampilkan postingan dengan label benih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label benih. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2016

Panduan teknis budidaya buah naga

Panduan teknis budidaya buah naga


Buah naga dikelompokan kedalam keluarga tanaman kaktus. Meskipun dikenal sebagai buah dari Asia, tanaman ini aslinya berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Pada tahun 1870, bangsa Perancis membawa buah naga dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias. Karena rasanya manis, buah naga kemudian dikonsumsi secara meluas di Vietnam dan Cina.
Di Indonesia, buah naga mulai populer sejak tahun 2000. Tidak jelas benar siapa yang pertama kali mengembangkannya. Diperkirakan buah naga yang masuk ke negeri kita berasal dari Thailand dan dibudidayakan oleh para pehobi tanaman secara sporadis.
Saat ini terdapat beberapa spesies tanaman buah naga yang banyak dibudidayakan. Jenis-jenisnya buah populer yaitu:
Hylocereus undatus kulitnya merah dengan daging buah putih
Hylocereus polyrhisus kulit merah dengan daging buah merah
Hylocereus costaricensis kulit merah dengan daging buah merah pekat agak keunguan
Hylocereus megelanthus kulitnya berwarna kuning dengan daging buah putih.
Budidaya buah naga sangat cocok dengan kondisi iklim dan alam Indonesia. Tanaman ini tumbuh optimal pada ketinggian 0-350 meter dpl dengan curah hujan sekitar 720 mm per tahun. Suhu udara ideal bagi pertumbuhan buah naga berkisar 26-36 derajat celcius.
Memilih bibit buah naga
Tanaman buah naga bisa diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif. Cara generatif yaitu memperbanyak tanaman dari biji. Benih diambil dengan cara mengeluarkan biji dari buah naga terpilih. Cara ini sedikit sulit dan biasanya dilakukan oleh para penangkar berpengalaman.
Cara vegetatif relatif lebih banyak dipakai karena lebih mudah. Budidaya buah naga dengan cara vegetatif lebih cepat menghasilkan buah. Selain itu, sifat-sifat tanaman induk bisa dipastikan menurun pada anaknya. Berikut ini langkah-langkah penyetekkan buah naga:
Penyetekkan dilakukan terhadap batang atau cabang tanaman yang pernah berbuah, setidaknya 3-4 kali. Hal ini berguna agar hasil setek bisa berproduksi lebih cepat dan produktivitasnya sudah ketahuan dari hasil buah terdahulu.
Pilih batang yang berdiameter setidaknya 8 cm, keras, tua, berwarna hijau kelabu dan sehat. Semakin besar diameter batang akan semakin baik, karena batang tersebut akan jadi batang utama tanaman.
Pemotongan dilakukan terhadap batang yang panjangnya sekitar 80-120 cm. Jangan dipotong semua, sisakan sekitar 20%, bagian yang 80% akan dijadikan calon bibit.
Potong-potong batang calon bibit dengan panjang sekitar 20-30 cm. Ujung bagian atas dipotong rata, sedangkan pangkal bawah yang akan ditancapkan ke tanah dipotong meruncing. Gunanya untuk merangsang pertumbuhan akar.
Potongan setek harus memiliki setidaknya 4 mata tunas. Panjang setek bisa lebih pendek namun konsekuensinya akan berpengaruh pada kecepatan berbuah.
Biarkan batang setek yang telah dipotong-potong tersebut hingga getahnya mengering. Apabila langsung ditanam getah yang masih basah bisa menyebabkan busuk batang. Untuk menghindari resiko serangan jamur batang setek bisa di celupkan pada larutan fungisida.
Siapkan bedengan atau polybag untuk menanam setek-setek tersebut. Untuk campuran tanah atau media tanamnya silahkan lihat cara membuat media persemaian.
Siram bedengan atau polybag yang telah diisi dengan media tanam. Kemudian tancapkan bagian yang runcing dari setek kedalam media tanam sedalam 5 cm.
Berikan naungan atau sungkup untuk melindungi setek tersebut. Lakukan penyiraman sebanyak 2-3 hari sekali.
Setelah 3 minggu, tunas pertama mulai tumbuh dan naungan atau sungkup harus dibuka agar bibit mendapatkan cahaya matahari penuh.
Pemeliharaan bibit biasanya berlangsung hingga 3 bulan. Pada umur ini tinggi bibit berkisar 50-80 cm.
Persiapan budidaya buah naga
Kebutuhan bibit untuk budidaya buah naga seluas satu hektar sekitar 6000-1000 bibit. Jumlah bibit yang diperlukan tergantung pada metode tanam dan pengaturan jarak tanam. Kali ini alamtani membahas metode budidaya buah naga dengan tiang panjat tunggal. Dengan sistem ini dibutuhkan tiang panjat sebanyak 1600 batang dengan kebutuhan bibit tanaman sebanyak 6400 bibit per hektar.
a. Pembuatan tiang panjat
Dalam budidaya buah naga tiang panjat sangat diperlukan untuk menopang tumbuhnya tanaman. Tiang panjat biasanya dibuat permanen dari beton. Bentuk tiangnya bisap pilar segi empat atau silinder dengan diameter sekitar 10-15 cm.
Tinggi tiang panjat untuk budidaya buah naga biasanya 2-2,5 meter. Tiang tersebut ditanam sedalam 50 cm agar kuat berdiri. Di ujung bagian atas diberikan penopang berupa batang kayu atau besi membentuk ‘+’. Kemudian tambahkan besi berbentuk lingkaran atau bisa juga ban motor bekas. Sehingga bagian ujung atasnya berbentuk seperti stir mobil.
Buatlah tiang panjat tersebut secara berbaris, jarak tiang dalam satu baris 2,5 meter sedangkan jarak antar baris 3 meter. Jarak ini juga sekaligus menjadi jarak tanam. Di antara barisan buat saluran drainase sedalam 25 cm.
b. Pengolahan tanah
Setelah tiang panjat disiapkan, buatlah lubang tanam dengan ukuran 60×60 cm dengan kedalaman 25 cm. Posisi tiang panjat persis terletak ditengah-tengah lubang tanam tersebut.
Campurkan 10 kg pasir dengan tanah galian untuk menambah porositas tanah. Tambahkan pupuk kompos atau pupuk kandang yang telah matang sebanyak 10-20 kg. Tambahkan juga dolomit atau kapur pertanian sebanyak  300 gram, karena buah naga memerlukan banyak kalsium. Aduk bahan-bahan tersebut hingga merata.
Timbun kembali lubang tanam dengan campuran media di atas. Kemudian siram dengan air hingga basah tapi jangan sampai tergenang. Biarkan lubang tanam yang telah ditimbun kembali tersinari matahari dan mengering.
Setelah 2-3 hari, berikan pupuk TSP sebanyak 25 gram. Pemberian pupuk melingkari tiang panjat dengan jarak sekitar 10 cm dari tiang. Biarkan selama kurang lebih 1 hari. Kini lubang tanam siap untuk ditanami.
Penanaman bibit buah naga
Untuk satu tiang panjat dibutuhkan 4 bibit tanaman buah naga. Bibit ditanam mengitari tiang panjat, jarak antar tiang panjat dengan bibit tanaman sekitar 10 cm. Bibit dipindahkan dari bedeng penyemaian atau polybag. Gali tanah sedalam 10-15 cm, atau disesuaikan dengan ukuran bibit. Kemudian bibit diletakkan pada galian tersebut dan ditimbun dengan tanah sambil dipadatkan.
Setelah ke-4 bibit ditanam, ikat batang bibit tanaman tersebut sehingga menempel pada tiang panjat. Lakukan pengikatan setiap tanaman tumbuh menjulur sepanjang 20-30 cm. Pengikatan jangan terlalu kencang untuk memberi ruang gerak pertumbuhan tanaman dan agar tidak melukai batang.
Pemupukan dan perawatan
a. Pemupukan
Pada masa awal pertumbuhan pupuk yang dibutuhkan harus mengandung banyak unsur nitrogen (N). Pada fase berbunga atau berbuah gunakan pupuk yang banyak mengandung fosfor (P) dan kalium (K). Pemakaian urea tidak dianjurkan untuk memupuk buah naga, karena sering mengakibatkan busuk batang.
Pemupukan dengan pupuk kompos atau pupuk kandang dilakukan setiap 3 bulan sekali dengan dosis 5-10 kg per lubang tanam. Pada saat berbunga dan berbuah berikan pupuk tambahan NPK dan ZK masing-masing 50 dan 20 gram per lubang tanam. Pada tahun berikutnya perbanyak dosis pemberian pupuk sesuai dengan ukuran tanaman. Pupuk tambahan berupa pupuk organik cair, pupuk hayati atau hormon perangsang buah bisa diberikan untuk memaksimalkan hasil.
b. Penyiraman
Penyiraman bisa dilakukan dengan mengalirkan air pada parit-parit drainase. Selain itu juga bisa menggunakan gembor atau irigasi tetes. Sistem irigasi tetes lebih hemat air dan tenaga kerja namun perlu investasi yang cukup besar.
Penyiraman dengan parit drainase dilakukan dengan merendam parit selama kurang lebih 2 jam. Bila penyiraman dilakukan dengan gembor, setiap lubang tanam disiram dengan air sebanyak 4-5 liter. Frekuensi penyiraman 3 kali sehari di musim kering, atau sesuai dengan kondisi tanah.
Penyiraman bisa dikurangi atau dihentikan ketika tanaman mulai berbunga dan berbuah. Pengurangan atau penghentian penyiraman bertujuan untuk menekan pertumbuhan tunas baru sehingga pertumbuhan buah bisa maksimal. Penyiraman tetap dilakukan apabila tanah terlihat kering dan tanaman layu karena kurang air.
c. Pemangkasan
Terdapat setidaknya tiga tipe pemangkasan dalam budidaya buah naga, yakni pemangkasan untuk membentuk batang pokok, pemangkasan membentuk cabang produksi dan pemangkasan peremajaan.
Pemangkasan untuk membentuk batang pokok dilakukan pada batang bibit tanaman. Tanaman yang baik memiliki batang pokok yang panjang, besar dan kokoh. Untuk mendapatkan itu pilih tunas yang tumbuh di bagian paling atas batang awal. Tunas yang tumbuh dibawahnya sebaiknya dipotong saja.
Pemangkasan untuk membentuk cabang produksi dilakukan pada tunas yang tumbuh pada batang pokok. Pilihlah 3-4 tunas untuk ditumbuhkan. Nantinya tunas ini akan menjadi batang produksi dan tumbuh menjuntai ke bawah. Tunas yang ditumbuhkan sebaiknya yang ada di bagian atas, sekitar 30 cm dari ujung atas.
Pemangkasan peremajaan dilakukan terhadap cabang produksi yang kurang produktif. Biasanya sudah berbuah 3-4 kali. Hasil pangkasan peremajaan ini bisa dijadikan sumber bibit tanaman.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemangkasan adalah bentuk tanaman. Biasanya tanaman buah naga tumbuh tidak teratur. Upayakan agar tunas-tunas yang dipilih bisa membentuk tanaman dengan baik. Sehingga percabangan tidak terlalu rimbun dan batang yang ada dibawah tajuk bisa terkena sinar matahari dengan maksimal.
Pemanenan
Tanaman buah naga berumur panjang. Siklus produktifnya bisa mencapai 15-20 tahun. Budidaya buah naga mulai berbuah untuk pertama kali pada bulan ke 10 hingga 12 terhitung setelah tanam. Namun apabila ukuran bibit tanamannya lebih kecil, panen pertamanya bisa mencapai 1,5-2 tahun terhitung setelah tanam. Produktivitas pada panen pertama biasanya tidak langsung optimal.
Satu tanaman biasanya menghasilkan 1 kg buah. Dalam satu tiang panjat terdapat 4 tanaman. Berarti  dengan jumlah tonggal 1600 dalam satu hektar akan dihasilkan sekitar 6-7 ton buah naga sekali musim panen. Usaha budidaya buah naga yang sukses bisa menghasilkan lebih dari 50 ton buah per hektar per tahun.
Ciri-ciri buah yang siap panen adalah kulitnya sudah mulai berwarna merah mengkilap. Jumbai buah berwarna kemerahan, warna hijaunya sudah mulai berkurang. Mahkota buah mengecil dan pangkal buah menguncup atau berkeriput. Ukuran buah membulat dengan berat sekitar 400-600 gram.

Sumber: alamtani.com

Cara Menanam Kacang Panjang Yang Baik Dan Benar

Cara Menanam Kacang Panjang Yang Baik Dan Benar



Kacang panjang (Vigna sinensis), adalah tanaman yang masuk kedalam golongan famili leguminosa. Golongan tanaman ini seringkali dimanfaatkan para petani untuk memulihkan kandungan nitrogen tanah dengan cara menjadikannya tanaman sela. Namun, disamping fungsinya sebagai tanaman sela, bercocok tanam kacang panjang juga berpotensi dari sisi ekonomi. Apalagi kacang panjang memiliki kemampuan adaptasi terhadap iklim yang baik, sehingga dapat ditanam di sepanjang musim.

Sayuran berbentuk panjang ini, menyukai udara yang panas, karena itu, pertumbuhannya akan lebih optimal jika berada di rentang suhu 15-24oC dan curah hujan 600-1500 mm per tahun. Kacang panjang juga sangat menyukai tipe tanah dengan drainase yang baik, gembur, serta terkena sinar matahari secara langsung.

Kacang panjang sama seperti halnya tanaman palawija lainnya, mudah ditanam dan gampang perawatannya. Tetapi bukan berarti boleh dibiarkan tumbuh begitu saja. Karena untuk bisa memperoleh hasil yang maksimal, ada langkah-langkah yang mesti dilakukan. Berikut ini langkah-langkah dan cara menanam kacang panjang yang benar :

1. Pemilihan Benih

Benih kacang panjang yang akan dikembangkan, sebelumnya harus sudah matang dari pohon. Benih tersebut kemudian dijemur hingga kering di bawah sinar matahari, dikupas dan dijemur lagi. Setelah melalui proses tersebut, biji kacang panjang bisa langsung ditanam tanpa harus melalui proses penyemaian. Namun, jika cara tersebut dirasa kurang, benih kacang panjang sesuai pilihan bisa dibeli di tempat penjual tanaman.

Untuk mengetahui benih kacang panjang yang baik, perhatikan ciri-ciri benih berikut ini:

a. Biji memiliki bentuk yang lebih besar atau sekitar 80% dari biji kacang pada umumnya. Biji seperti ini memiliki daya tumbuh yang tinggi.

b. Biji yang akan dijadikan benih harus murni, artinya tidak tercampur biji-biji lain yang berasal dari varietas tidak jelas.

c. Umur benih harus cukup tua serta bernas.

d. Benih harus bebas atau tahan dari hama penyakit dan memiliki daya produksi yang tinggi.

2. Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah dilakukan dengan dengan cara mencangkul atau membajaknya sedalam +/- 30 cm. Biarkan tanah yang sudah digemburkan tersebut terbuka selama +/- 4 hari guna memberi kesempatan tanah untuk bernapas. Selanjutnya, buatlah bedengan berukuran panjang 8-10 meter, lebar 1-3 meter, dan tingi 20-30 cm.

3. Penanaman

Penanaman kacang panjang biasanya dilakukan pada akhir musim hujan, dengan tujuan agar tanaman mendapatkan air dengan mudah, serta tidak busuk disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Penanaman dapat juga dilakukan pada musim kemarau asalkan air untuk pengairan bisa diperoleh dengan mudah.

Begitu tanah siap ditanami, buatlah lubang tanam menggunakan tugal dengan jarak tanam 30 x 60 cm, atau sesuai dengan keinginan. Isi lubang-lubang tersebut dengan 2-3 biji benih dan tutup lubang dengan tanah tipis-tipis agar benih bisa tumbuh ke atas tanah dengan mudah.

Sambil menunggu tumbuhnya benih, siapkan lanjaran atau tongkat dari bambu atau kayu dengan panjang sekitar 2 meter. Lanjaran ini dibutuhkan karena kacang panjang adalah tanaman yang tumbuh merambat dan membelit. Setelah 4-5 hari sejak ditanam, bibit kacang panjang akan menjulur tumbuh ke atas tanah. Jika ada bibit yang tidak tumbuh, gantilah segera dengan bibit yang baru.


4.Perawatan

Dalam proses pertumbuhannya, ketika tanaman mencapai ketinggian 25 cm, pada umumnya tanaman akan membelit lanjaran. Jika ternyata ada tanaman yang merambat ke tanah, bantu tanaman itu dengan mengikatkannya pada lanjaran menggunakan tali rafia agar pertumbuhannya merambat pada lanjaran tersebut.

a. Pengairan

Perhatikan pula penyiraman atau pengairan bagi tanaman. Untuk lahan yang memiliki irigasi, penyiraman dapat dilakukan dengan cara menggenangi lahan dengan air. Setelah seluruh permukaan tanah lembab, keluarkan lagi aliran air dari areal lahan penanaman. Sedang untuk lahan tadah hujan, penyiraman harus dilakukan dengan cara manual, utamanya pada awal pertumbuhan benih.

b. Penyiangan.

Penyiangan dilakukan jika di dalam bedengan tumbuh gulma dan rumput liar, utamanya pada awal pertumbuhan tanaman, guna menghindari persaingan dalam memperoleh nutrisi.

c. Pemupukan

Pemupukan dilakukan di awal masa tanam dan disaat tanaman berumur 15 – 20 hari. Pemupukan di awal masa tanam dilakukan sewaktu pengolahan tanah. Caranya dengan memberikan pupuk kandang sebagai pupuk dasar sebanyak 10 ton/hektar. Dapat juga ditambah dengan pupuk buatan, dengan dosis perhektar sebanyak 125 kg KC1, 200 kg TSP, dan 50 kg Urea.

Untuk pemupukan tambahan ketika tanaman berumur 15 – 20 hari, ketiga pupuk buatan dengan dosis yang sama tersebut dapat pula digunakan. Tetapi yang utama adalah menggunakan pupuk kompos dengan komposisi 20 ton untuk setiap hektar lahan. Pupuk kompos tersebut disebar di sekitar tanaman, kemudian ditimbun dengan tanah sekaligus untuk meninggikan bedengan.

Jika diperlukan, dapat pula menyemprotkan pupuk organik cair pada tanaman, guna merangsang keluarnya bunga. Pupuk organik tersebut terlebih dahulu dilarutkan ke dalam air, dengan dosis 1 liter pupuk organik untuk 10 liter air. Larutan hasil campuran pupuk organik dengan air tersebut kemudian disemprotkan ke tanaman. Untuk setiap satu liter larutan pupuk dapat digunakan untuk menyemprot 10 m2 lahan tanam.

5. Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit adalah salah satu faktor yang mengurangi produktivitas kacang panjang. Hama dan penyakit tersebut diantaranya adalah:

a. kutu hitam dan kutu putih,

b. kepik daun,

c. penggerek polong,

d. ulat grayak,

e. serta penyakit karat dan bercak daun Cercospora.

Untuk menangani hama dan penyakit tersebut, dapat dilakukan secara organic, yakni dengan menggunakan pestisida hayati. Namun, penanganan lewat cara ini biasanya tidak berlangsung lama, itu sebabnya dibutuhkan penanganan secara manual, yakni dengan pengambilan kumbang secara manual. Pada lahan seluas 1002 m, biasanya terdapat kumbang sekitar 50 – 100 ekor.

[​IMG]

7. Panen dan Pasca Panen

Setelah berumur 45 – 50 hari, kacang panjang siap untuk dipanen. Ketika itu warna kacang panjang hijau keputihan. Untuk memanennya dilakukan secara periodik dengan cara dipetik. Cara memetik juga harus diperhatikan, agar bunga tidak rusak saat dilakukan pemetikan. Caranya adalah dengan mematahkan tangkai buah kea rah yang berlawanan atau dengan cara memutar buah hingga lepas dari tangkai.

Kacang panjang yang telah dipanen selanjutnya dikumpulkan di tempat penampungan untuk disortasi. Setelah diikat dengan bobot sebagaimana yang diinginkan, kacang panjang tersebut siap untuk dipasarkan.

Sumber:www.kebunpedia.com