Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Oktober 2016
Panduan teknis budidaya buah naga
Buah naga dikelompokan kedalam keluarga tanaman kaktus. Meskipun dikenal sebagai buah dari Asia, tanaman ini aslinya berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Pada tahun 1870, bangsa Perancis membawa buah naga dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias. Karena rasanya manis, buah naga kemudian dikonsumsi secara meluas di Vietnam dan Cina.
Di Indonesia, buah naga mulai populer sejak tahun 2000. Tidak jelas benar siapa yang pertama kali mengembangkannya. Diperkirakan buah naga yang masuk ke negeri kita berasal dari Thailand dan dibudidayakan oleh para pehobi tanaman secara sporadis.
Saat ini terdapat beberapa spesies tanaman buah naga yang banyak dibudidayakan. Jenis-jenisnya buah populer yaitu:
Hylocereus undatus kulitnya merah dengan daging buah putih
Hylocereus polyrhisus kulit merah dengan daging buah merah
Hylocereus costaricensis kulit merah dengan daging buah merah pekat agak keunguan
Hylocereus megelanthus kulitnya berwarna kuning dengan daging buah putih.
Budidaya buah naga sangat cocok dengan kondisi iklim dan alam Indonesia. Tanaman ini tumbuh optimal pada ketinggian 0-350 meter dpl dengan curah hujan sekitar 720 mm per tahun. Suhu udara ideal bagi pertumbuhan buah naga berkisar 26-36 derajat celcius.
Memilih bibit buah naga
Tanaman buah naga bisa diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif. Cara generatif yaitu memperbanyak tanaman dari biji. Benih diambil dengan cara mengeluarkan biji dari buah naga terpilih. Cara ini sedikit sulit dan biasanya dilakukan oleh para penangkar berpengalaman.
Cara vegetatif relatif lebih banyak dipakai karena lebih mudah. Budidaya buah naga dengan cara vegetatif lebih cepat menghasilkan buah. Selain itu, sifat-sifat tanaman induk bisa dipastikan menurun pada anaknya. Berikut ini langkah-langkah penyetekkan buah naga:
Penyetekkan dilakukan terhadap batang atau cabang tanaman yang pernah berbuah, setidaknya 3-4 kali. Hal ini berguna agar hasil setek bisa berproduksi lebih cepat dan produktivitasnya sudah ketahuan dari hasil buah terdahulu.
Pilih batang yang berdiameter setidaknya 8 cm, keras, tua, berwarna hijau kelabu dan sehat. Semakin besar diameter batang akan semakin baik, karena batang tersebut akan jadi batang utama tanaman.
Pemotongan dilakukan terhadap batang yang panjangnya sekitar 80-120 cm. Jangan dipotong semua, sisakan sekitar 20%, bagian yang 80% akan dijadikan calon bibit.
Potong-potong batang calon bibit dengan panjang sekitar 20-30 cm. Ujung bagian atas dipotong rata, sedangkan pangkal bawah yang akan ditancapkan ke tanah dipotong meruncing. Gunanya untuk merangsang pertumbuhan akar.
Potongan setek harus memiliki setidaknya 4 mata tunas. Panjang setek bisa lebih pendek namun konsekuensinya akan berpengaruh pada kecepatan berbuah.
Biarkan batang setek yang telah dipotong-potong tersebut hingga getahnya mengering. Apabila langsung ditanam getah yang masih basah bisa menyebabkan busuk batang. Untuk menghindari resiko serangan jamur batang setek bisa di celupkan pada larutan fungisida.
Siapkan bedengan atau polybag untuk menanam setek-setek tersebut. Untuk campuran tanah atau media tanamnya silahkan lihat cara membuat media persemaian.
Siram bedengan atau polybag yang telah diisi dengan media tanam. Kemudian tancapkan bagian yang runcing dari setek kedalam media tanam sedalam 5 cm.
Berikan naungan atau sungkup untuk melindungi setek tersebut. Lakukan penyiraman sebanyak 2-3 hari sekali.
Setelah 3 minggu, tunas pertama mulai tumbuh dan naungan atau sungkup harus dibuka agar bibit mendapatkan cahaya matahari penuh.
Pemeliharaan bibit biasanya berlangsung hingga 3 bulan. Pada umur ini tinggi bibit berkisar 50-80 cm.
Persiapan budidaya buah naga
Kebutuhan bibit untuk budidaya buah naga seluas satu hektar sekitar 6000-1000 bibit. Jumlah bibit yang diperlukan tergantung pada metode tanam dan pengaturan jarak tanam. Kali ini alamtani membahas metode budidaya buah naga dengan tiang panjat tunggal. Dengan sistem ini dibutuhkan tiang panjat sebanyak 1600 batang dengan kebutuhan bibit tanaman sebanyak 6400 bibit per hektar.
a. Pembuatan tiang panjat
Dalam budidaya buah naga tiang panjat sangat diperlukan untuk menopang tumbuhnya tanaman. Tiang panjat biasanya dibuat permanen dari beton. Bentuk tiangnya bisap pilar segi empat atau silinder dengan diameter sekitar 10-15 cm.
Tinggi tiang panjat untuk budidaya buah naga biasanya 2-2,5 meter. Tiang tersebut ditanam sedalam 50 cm agar kuat berdiri. Di ujung bagian atas diberikan penopang berupa batang kayu atau besi membentuk ‘+’. Kemudian tambahkan besi berbentuk lingkaran atau bisa juga ban motor bekas. Sehingga bagian ujung atasnya berbentuk seperti stir mobil.
Buatlah tiang panjat tersebut secara berbaris, jarak tiang dalam satu baris 2,5 meter sedangkan jarak antar baris 3 meter. Jarak ini juga sekaligus menjadi jarak tanam. Di antara barisan buat saluran drainase sedalam 25 cm.
b. Pengolahan tanah
Setelah tiang panjat disiapkan, buatlah lubang tanam dengan ukuran 60×60 cm dengan kedalaman 25 cm. Posisi tiang panjat persis terletak ditengah-tengah lubang tanam tersebut.
Campurkan 10 kg pasir dengan tanah galian untuk menambah porositas tanah. Tambahkan pupuk kompos atau pupuk kandang yang telah matang sebanyak 10-20 kg. Tambahkan juga dolomit atau kapur pertanian sebanyak 300 gram, karena buah naga memerlukan banyak kalsium. Aduk bahan-bahan tersebut hingga merata.
Timbun kembali lubang tanam dengan campuran media di atas. Kemudian siram dengan air hingga basah tapi jangan sampai tergenang. Biarkan lubang tanam yang telah ditimbun kembali tersinari matahari dan mengering.
Setelah 2-3 hari, berikan pupuk TSP sebanyak 25 gram. Pemberian pupuk melingkari tiang panjat dengan jarak sekitar 10 cm dari tiang. Biarkan selama kurang lebih 1 hari. Kini lubang tanam siap untuk ditanami.
Penanaman bibit buah naga
Untuk satu tiang panjat dibutuhkan 4 bibit tanaman buah naga. Bibit ditanam mengitari tiang panjat, jarak antar tiang panjat dengan bibit tanaman sekitar 10 cm. Bibit dipindahkan dari bedeng penyemaian atau polybag. Gali tanah sedalam 10-15 cm, atau disesuaikan dengan ukuran bibit. Kemudian bibit diletakkan pada galian tersebut dan ditimbun dengan tanah sambil dipadatkan.
Setelah ke-4 bibit ditanam, ikat batang bibit tanaman tersebut sehingga menempel pada tiang panjat. Lakukan pengikatan setiap tanaman tumbuh menjulur sepanjang 20-30 cm. Pengikatan jangan terlalu kencang untuk memberi ruang gerak pertumbuhan tanaman dan agar tidak melukai batang.
Pemupukan dan perawatan
a. Pemupukan
Pada masa awal pertumbuhan pupuk yang dibutuhkan harus mengandung banyak unsur nitrogen (N). Pada fase berbunga atau berbuah gunakan pupuk yang banyak mengandung fosfor (P) dan kalium (K). Pemakaian urea tidak dianjurkan untuk memupuk buah naga, karena sering mengakibatkan busuk batang.
Pemupukan dengan pupuk kompos atau pupuk kandang dilakukan setiap 3 bulan sekali dengan dosis 5-10 kg per lubang tanam. Pada saat berbunga dan berbuah berikan pupuk tambahan NPK dan ZK masing-masing 50 dan 20 gram per lubang tanam. Pada tahun berikutnya perbanyak dosis pemberian pupuk sesuai dengan ukuran tanaman. Pupuk tambahan berupa pupuk organik cair, pupuk hayati atau hormon perangsang buah bisa diberikan untuk memaksimalkan hasil.
b. Penyiraman
Penyiraman bisa dilakukan dengan mengalirkan air pada parit-parit drainase. Selain itu juga bisa menggunakan gembor atau irigasi tetes. Sistem irigasi tetes lebih hemat air dan tenaga kerja namun perlu investasi yang cukup besar.
Penyiraman dengan parit drainase dilakukan dengan merendam parit selama kurang lebih 2 jam. Bila penyiraman dilakukan dengan gembor, setiap lubang tanam disiram dengan air sebanyak 4-5 liter. Frekuensi penyiraman 3 kali sehari di musim kering, atau sesuai dengan kondisi tanah.
Penyiraman bisa dikurangi atau dihentikan ketika tanaman mulai berbunga dan berbuah. Pengurangan atau penghentian penyiraman bertujuan untuk menekan pertumbuhan tunas baru sehingga pertumbuhan buah bisa maksimal. Penyiraman tetap dilakukan apabila tanah terlihat kering dan tanaman layu karena kurang air.
c. Pemangkasan
Terdapat setidaknya tiga tipe pemangkasan dalam budidaya buah naga, yakni pemangkasan untuk membentuk batang pokok, pemangkasan membentuk cabang produksi dan pemangkasan peremajaan.
Pemangkasan untuk membentuk batang pokok dilakukan pada batang bibit tanaman. Tanaman yang baik memiliki batang pokok yang panjang, besar dan kokoh. Untuk mendapatkan itu pilih tunas yang tumbuh di bagian paling atas batang awal. Tunas yang tumbuh dibawahnya sebaiknya dipotong saja.
Pemangkasan untuk membentuk cabang produksi dilakukan pada tunas yang tumbuh pada batang pokok. Pilihlah 3-4 tunas untuk ditumbuhkan. Nantinya tunas ini akan menjadi batang produksi dan tumbuh menjuntai ke bawah. Tunas yang ditumbuhkan sebaiknya yang ada di bagian atas, sekitar 30 cm dari ujung atas.
Pemangkasan peremajaan dilakukan terhadap cabang produksi yang kurang produktif. Biasanya sudah berbuah 3-4 kali. Hasil pangkasan peremajaan ini bisa dijadikan sumber bibit tanaman.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemangkasan adalah bentuk tanaman. Biasanya tanaman buah naga tumbuh tidak teratur. Upayakan agar tunas-tunas yang dipilih bisa membentuk tanaman dengan baik. Sehingga percabangan tidak terlalu rimbun dan batang yang ada dibawah tajuk bisa terkena sinar matahari dengan maksimal.
Pemanenan
Tanaman buah naga berumur panjang. Siklus produktifnya bisa mencapai 15-20 tahun. Budidaya buah naga mulai berbuah untuk pertama kali pada bulan ke 10 hingga 12 terhitung setelah tanam. Namun apabila ukuran bibit tanamannya lebih kecil, panen pertamanya bisa mencapai 1,5-2 tahun terhitung setelah tanam. Produktivitas pada panen pertama biasanya tidak langsung optimal.
Satu tanaman biasanya menghasilkan 1 kg buah. Dalam satu tiang panjat terdapat 4 tanaman. Berarti dengan jumlah tonggal 1600 dalam satu hektar akan dihasilkan sekitar 6-7 ton buah naga sekali musim panen. Usaha budidaya buah naga yang sukses bisa menghasilkan lebih dari 50 ton buah per hektar per tahun.
Ciri-ciri buah yang siap panen adalah kulitnya sudah mulai berwarna merah mengkilap. Jumbai buah berwarna kemerahan, warna hijaunya sudah mulai berkurang. Mahkota buah mengecil dan pangkal buah menguncup atau berkeriput. Ukuran buah membulat dengan berat sekitar 400-600 gram.
Sumber: alamtani.com
Panduan Teknis Budidaya Wortel
Cara Budidaya Wortel – Wortel merupakan salah satu sayuran yang paling menjadi favorit bagi banyak orang yang ada di dunia ini. Ada banyak jenis wortel yang bisa kita kenal, setiap wortel pasti memiliki cara budidaya wortel yang berbeda-beda dan pastinya setiap orang belum tentu bisa melakukannya.
Untuk melakukan budidaya ini sebenarnya kita membutuhkan lahan yang cukup luas. Karena jika budidaya hanya dilakukan pada pekarangan rumah yang kecil hasilnya tidak akan maksimal seperti apa yang kita bayangkan.
Lahan yang besar yang bagus ditumbuhi wortel adalah lahan di dataran tinggi sekitar 1000 dpl yang akan sangat memberikan udara yang bagus.
Ada beberapa orang yang ingin sekali melakukan budidaya namun mereka belum tahu bagaimana cara melakukannya. Sebenarnya melakukan budidaya wortel bukan hal yang sulit karena semua orang pasti bisa melakukan budidaya ini.
Bibit yang digunakan juga akan sangat mempengaruhi apakah budidaya ini akan berhasil atau tidak. Jika bibit yang kita gunakan kualitasnya tidak bagus maka sudah dapat dipastikan bahwa wortel yang akan kita dapatkan juga pasti tidak bagus.
Jika kita bertanya apakah sebenarnya keuntungan jika kita melakukan budidaya ini, sebenarnya ada beberapa keuntungan yang akan diberikan. Berikut ini adalah kemungkinan keuntungan yang akan didapatkan antara lain:
Mendapatkan penghasilan tambahan dari hasil penjualan wortel yang akan kita jual ini.
Membuat tanah menjadi subur karena kita memberikan pupuk juga pada tanah yang ditanami tanaman.
Membuat udara segar karena ada banyak sekali tanaman yang akan ditanam.
Mencegah longsor, apabila kita melakukan penanaman di daerah pegunungan maka tanah akan ikut kuat dengan adanya tanaman ini.
Sama seperti budidaya tanaman yang lain pastinya cara budidaya wortel juga memiliki beberapa tahapan yang akan membantu kita untuk memahaminya. Berikut ini adalah tahapan yang harus dijalankan antara lain:
Persiapan lahan untuk menanam pohon wortel.
Penanaman tanaman wortel.
Pemeliharaan tanaman wortel yang sudah ditanam.
Pembasmian hama dan penyakit.
Pemanenan wortel.
Ada 2 jenis benih atau bibit wortel yang menjadi unggulan di kalangan banyak petani dan juga dikalangan pecinta tanaman. Berikut ini adalah kedua jenis bibit ini antara lain:
Tahapan awal budidaya wortel
Pada awal sekali kita harus memastikan lokasi atau lahan kita untuk menanam sudah cocok dan bisa untuk ditanami pohon wortel. Jika sudah menemukan dataran tinggi yang cocok langkah selanjutnya adalah kita bisa mengolah tanah yang ada pada lahan tersebut.
Tanah harus digarap dengan kedalaman sekitar 50 cm karena tanaman wortel merupakan umbi yang akan dipanen. Selain itu kita bisa menaburkan pupuk kompos pada tanah.
Tahapan kedua
Penanaman benih sudah dimulai pada tahap ini, benih wortel memiliki tekstur yang saling menempel satu sama lain jadi lebih baik jika kita pisahkan dengan cara menggosokannya. Ini merupakan cara yang mudah karena benih wortel bisa langsung ditanam tanpa harus melakukan penyemaian. Tanaman wortel biasanya akan tumbuh dalam waktu 10 hari.
Tahapan ketiga
Pada tahap ini tumbuhan wortel akan mendapatkan sejumlah perawatan seperti pemberian pupuk. Tanaman ini sebaiknya mengalami pemupukan sebanyak 1 kali dalam sebulan. Tanaman ini bisa diberikan pupuk setelah 1 bulan tumbuh. Pupuk yang baik untuk tanaman ini adalah pupuk kompos atau pupuk urea. Selain itu kita juga bisa melakukan penyiangan gulma pada tanaman wortel ini.
Tahapan keempat
Tanaman lahan seperti ini memang sangat rentan sekali terkena serangan hama oleh karena itu harus ada pembasmian hama secara rutin. Biasanya hama yang sering muncul adalah hama ulat tanah dan juga ulat daun.
Keduanya bisa dibasmi dengan cara mencari sarang mereka lalu kita musnahkan sarangnya. Penyiangan gulma juga merupakan salah satu alternatif cara untuk membasmi hama yang ada. Selain itu kita juga bisa menggunakan desinfektan.
Tahapan kelima
Jika sudah ditanam selama kurang lebih 3 bulan maka tanaman wortel ini sudah siap dipanen. Pemanenan wortel juga cukup mudah, kita hanya perlu mencabut tanaman ini lalu kita akan mendapatkan umbi yang matang setelah itu bisa dibersihkan dan dicuci. Maka setelah itu umbi yang disebut sebagai wortel.
Membaca artikel ini mungkin saja akan mendorong kita untuk melakukan cara budidaya wortel yang ternyata cukup mudah. Wortel yang dipanen hasilnya juga akan ditentukan dari benih yang kita gunakan pada saat menanam. Jangan sampai benih yang kita gunakan ini merupakan kualitas rendah karena juga akan pengaruh ke hasil dari budidaya ini.
Sumber: agroteknologi.web.id
Budidaya Melon Buah Primadona Musim Kemarau
Budidaya melon buah primadona musim kemarau – Cuaca terik musim kemarau (panas) paling enak makan buah-buahan yang mengandung air, salah satunya melon. Buah melon memang menjadi salah satu primadona kala musim kemarau. Tidak heran berapapun jumlah buah yang diproduksi / dipanen petani langsung habis untuk memenuhi pesanan pedagang besar untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia.
Melihat besarnya peluang pasar dari buah melon, banyak petani yang tergiur mengembangkan atau membudidayakan tanaman melon. Tetapi bukan perkara mudah untuk membudidayakan tanaman melon. Karena butuh perawatan intensif kalau mau panen raya. Perawatan intensif tersebut berbanding lurus dengan modal yang harus dikeluarkan. Petani bisa mengeluarkan biaya lebih dari Rp 100 juta untuk budidaya 45 kepek benih dengan luas area tanam bisa mencapai dua hektare.
Biaya mahal karena perawatan dilakukan setiap hari. Petani melakukan penyemprotan berbagai jenis pestisida, fungisida dan pupuk daun. Bahkan untuk memudahkan perawatan, petani membangun gubuk di tengah hamparan untuk tempat tinggal selama masa budidaya. Melon merupakan tanaman rentan penyakit. Paling riskan adalah serangan jamur. Kalau sampai terlambat penanganan pasti akan gagal panen.
Budidaya melon diawali dengan persiapan lahan. Banyak petani yang memanfaatkan sawah yang dibiarkan kering oleh pemiliknya. Contohnya para petani Kulonprogo yang memanfaatkan sawah di Kecamatan Purwodadi, Bagelen dan Ngombol Purworejo. Para petani tersebut menyewa kepada petani pemilik lahan Rp 800 ribu per hektare selama satu musim tanam.
Kebanyakan petani tidak menggunakan mulsa plastik, melainkan langsung membuat gundukan tanah. Bibit ditanam di gundukan itu, lalu dibiarkan tumbuh, sulurnya akan menjalar ke sekitarnya. Jarak antar gundukan kurang lebih satu meter.
Selesai persiapan lahan lahan, dimulailah penanaman. Adapun untuk penyiraman, petani membuat sumur bor dan menyedotnya menggunakan mesin pompa. Lapisan tanah sawah terutama di dekat pesisir mudah menyerap air karena ada sedikit pasir sehingga tanaman terhindar dari genangan.
Untuk penyemprotan, dilakukan rutin setiap hari menggunakan mesin sprayer. Karena penggunaan mesin ini menurut banyak petani lebih mudah dalam proses mengingat luasnya area budidaya yang harus ditangani.
Dalam dua bulan, buah melon tumbuh seberat 1 – 2 kilogram per butir dengan guratan jaring di permukaan kulitnya. Melon memiliki kadar gula hingga 14 persen dan mengandung banyak air. Setiap hektare lahan melon mampu menghasilkan hingga 25 ton buah, itulah jenis super, pasar sangat menyukai.
Tetapi hasil bagus terkadang tidak berbanding lurus dengan pendapatan. Harga pasar untuk buah melon mempengaruhi hasil yang akan mereka peroleh. Untuk budidaya tahun 2015, hasil yang didapat petani melon kurang menggembirakan.
Pedagang membeli melon Rp 16 juta per truk atau seberat kurang lebih 6,5 ton. Padahal biasanya pedagang mau membeli dengan harga Rp 28 juta per truk apabila sedang kemarau panjang. Menurut pedagang yang membeli melon, karena panen raya melon di mana-mana mengakibatkan kota-kota besar di Indonesia juga diserbu oleh melon-melon dari daerah lain yang sedang panen melon juga.
Kendati budidaya melon selalu dihantui ketidakpastian, namun para petani khususnya yang dari Kulonprogo ini tidak ada kapok-kapoknya untuk membudidayakan melon. Karena berhubung lahan di Kulonprogo sudah penuh oleh melon maka para petani banyak yang menginvasi ke lahan di Kabupaten Purworejo. Tanah di Kabupaten Purworejo cocok untuk melon selain karena struktur tanahnya, sawahnya juga masih subur akibat ada sisa pupuk dari budidaya padi sebelumnya.
Demikian info peluang usaha tentang budidaya melon buah primadona musim kemarau semoga bermanfaat.
Sumber: solehagus.com
Kiat sukses budidaya jagung manis organik
Budidaya jagung manis (Zea mays saccharata) lebih rentan dari serangan hama dan penyakit dibanding jagung biasa. Namun dari sisi nilai jual, jagung manis menawarkan harga yang lebih baik sehingga animo budidaya jagung manis tak pernah surut. Karena sifatnya yang bisa dikonsumsi langsung seperti jagung bakar atau jagung rebus, pasar jagung manis terbuka sampai ke tingkat retail.
Jagung manis berkembang dari tipe jagung biasa jenis dent dan flint. Pada jagung manis terjadi mutasi gen resesif yang menghambat perubahan gula menjadi pati. Kadar gula pada jagung manis meningkat mulai hari ke-5 hinggan hari ke-15.
Budidaya jagung manis bisa dilakukan dalam kisaran iklim yang luas. Tanaman ini memiliki tingkat adaptasi yang tinggi. Di Indonesia jagung manis bisa dibudidayakan mulai dari dataran rendah hingga pengunungan dengan ketinggian 1.800 meter dpl bahkan dibelahan dunia lain bisa tumbuh pada 3.000 meter dpl. Suhu optimum untuk pertumbuhan jagung manis adalah 21-27oC, pada masa perkecambahan benih 23-27oC. Secara teori budidaya jagung manis bisa tumbuh di atas tanah dengan tingkat keasaman 5-8 pH.
Budidaya jagung manis tidak akan maksimal apabila kebutuhan hara tidak tercukupi. Tanaman ini memerlukan unsur nitrogen (N) dalam jumlah besar. Namun pemberian pupuk harus memperhatikan keseimbangan antara nitrogen, kalium (K) dan pospat (P).
Budidaya jagung manis bisa ditanam di lahan bekas sawah secara langsung atau bisa dibuat bedengan. Apabila lahan yang dipakai bekas sawah, usahakan agar lahan tidak tergenang air. Bedengan pada tanaman jagung berfungsi untuk mengatur saluran drainase. Bedengan bisa dibuat dengan ukuran lebar 1 meter dan tinggi 20-30 cm. Atur jarak antar bedengan sebesar 30 cm. Dalam satu bedeng bisa ditanam dua larik tanaman.
Pemupukan dasar untuk budidaya jagung manis organik sebaiknya campuran dari pupuk kotoran ayam dengan kotoran sapi atau kambing dengan komposisi 1:1. Pupuk kotoran ayam memberikan kadar N yang banyak dan lebih cepat terurai, sedangkan pupuk kotoran sapi atau kambing lebih kaya akan K dan P. Kebutuhan pupuk dengan metode organik adalah sekitar 5 ton per hektar.
Penanaman jagung manis paling efektif dengan cara ditugal. Buatlah lubang sedalam 2-3 cm kemudian masukan 2 butir benih jagung. Setelah itu tutup dengan tanah dan kompos, kemudian siram agar kelembaban tanah terjaga. Kebutuhan benih budidaya jagung manis adalah 8 kg per hektar.
Jarak tanam pada budidaya jagung manis adalah 60-75 cm. Jarak tanam ini mengikuti jumlah populasi ideal tanaman. Budidaya jagung manis akan munai hasil baik dengan menjaga populasi tanaman sebanyak 34.000-37.000 tanaman per hektar.
Hama yang banyak ditemukan dalam budidaya jagung manis antara lain penggerek, penggerek tongkol, belalang, kutu daun dan tikus. Berikut sifat-sifat hama pada tanman jagung manis:
Penggerek batang jagung (O. furnacalis), hama ini menyerang tanaman pada vase vegetatif maupun generatif. Kerusakan tanaman terjadi karena larva menggerek bagian batang tanaman untuk mendapatkan makanan. Penggerek batang jagung bisa dikendalikan secara teknis dengan mengatur rotasi tanam seperti dengan kedelai dan kacang tanah. Selain itu bisa juga dengan dengan memotong bunga jantan dan menerapkan waktu tanam yang tepat. Pembasmian hayati dengan memanfaatkan musuh alami seperti Trichogramma spp. atau predator alami Euborellia annulata yang memangsa larva.
Ulat Tongkol (H. armigera), hama ini menyerang tongkol jagung. Pada awalnya imago meninggalkan telur pada rambut-rambut jagung. Setelah larva tumbuh akan masuk kedalam tongkol. Hama ini mempunyai kebiasaan berpindah-pindah, sehingga kerusakan yang ditimbulkan pada tongkol jagung bisa lebih banyak dibanding jumlah larvanya. Pencegahan terhadap hama ini adalah dengan menerapkan pengolahan tanah yang baik. Pengolahan tanah yang akan mengurangi populasi ulat tongkol berikutnya. Musuh utama dari hama ini adalah Trichogramma spp. yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa parasit pada larva muda.
Kutu Daun (R. maidis), hama ini mengeluarkan embun madu pada daun yang berubah menjadi jelaga warna hitam. Noda-noda tersebut akan menghambat daun melakukan fotosintesis. Musuh alami hama ini adalah Lysiphlebus mirzai, Coccinella sp. dan Micraspis sp. Kultur teknis yang bisa dilakukan untuk menghindari serangan hama ini dengan melakukan polikultur tanaman atau menumpangsarikan jagung manis dengan tanaman lain.
Belalang (Oxya spp.), hama ini banyak berkembang didataran rendah yang berupa padang rumput atau pesawahan. Beberapa musuh alami belalang adalah Systoechus sp., burung dan laba-laba. Selain itu patogen seperti Metarhizium anisopliae merupakan musuh belalang. Metarhizium anisopliae merupakan bahan biopestisida yang sanggup mengendalikan 70-90% hama belalang.
Tikus (Rattus argentiventer), hama ini biasanya menyerang tanaman jagung manis yang ditanam di lahan sawah. Tikus memakan tongkol muda yang sedang matang susu, umumnya tikus memakan tongkol dari ujung hingga pertengahan pangkal. Pengendalian hama tikus secara organik adalah dengan memburu dan membasmi tikus dari sarangnya.
Disamping hama, budidaya jagung manis tidak terlepas dari serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus maupun cendawan. Berikut beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman jagung manis terutama yang ditanam di daerah tropis:
Bule (Peronosclespora Maydis), gejala penyakit bule adalah permukaan daun bergaris-garis putih sampai kuning diikuti dengan warna coklat. Kemudian kerusakan menyerang tongkol. Penyakit ini bisa menyerang disepanjang musim tanam, namun kasus terbesar menyerang budidaya jagung manis yang ditanam diluar musim atau terlambat tanam. Serangan penyakit ini menyebabkan kerusakan yang besar, bisa menyebabkan kehilangan hinga 100%. Serangan penyakit bule bisa dihindari dengan pemilihan varietas benih yang tahan P. Maydis, memusnahkan tanaman terinfeksi, penanaman sesuai musim, dan rotasi tanaman.
Karat (Puccinia sorghi), gejalanya terdapat bercak-bercak bisul berwarna coklat sampai oranye pada permukaan daun bagian atas. Penyakit ini biasanya menyerang jagung yang ditanam di daerah beriklim tropis hingga sedang. Penyakit ini berkembang baik pada suhu 16-23oC dengan kelembaban tinggi. Bisa dikendalikan dengan pemilihan varietas benih, menjaga sanitasi kebun dan aplikasi biopestisida apabila bisul muncul pada permukaan daun.
Hawar daun (Helminthosporium turcicum), penyakit ini menyerang daun dengan gejala awal bercak-bercak kecil berbentuk oval yang berkembang menjadi hawar berwarna coklat keabu-abuan. Biasanya serangan ditemukan pada daun tua (bawah) kemudian menjalar ke daun muda (atas). Pada keadaan yang parah bisa menyababkan kematian pada tanaman dengan penampakan daun kering seperti terbakar. Untuk mengendalikannya gunakan varietas yang tahan, pengolahan tanah yang baik, penyiangan dan pengaturan jarak tanam. Pada budidaya jagung manis non-organik bisa diaplikasikan fungisida.
Hawar daun (Curvularia sp.), cendawan ini menyebabkan hawar daun dengan gejala awal bercak tak beraturan di ujung daun, pusat bercak berwarna coklat keputihan dengan pinggiran coklat tua. Bercak meluas ke pangkal daun hingga membuat seluruh daun mengering. Penyakit ini cepat menyebar pada kondisi kelembaban dan curah hujan tinggi. Pengendaliannya dengan memilih varietas tahan, perbaikan drainase tanah, meningkatkan sanitasi kebun dan menghilangkan tanaman atau bagian tanaman yang terkena.
Hawar pelepah (Rhizoctonia solani), gejalanya berupa busuk pada pelepah. Awalnya menyerang pada bagian tanaman yang terdekat dengan tanah kemudian menjalar ke bagian lain. Pada varietas tertentu bida menyerang hingga ke tongkol buah. Pengendaliannya dengan mengatur budidaya jagung manis ke musim kemarau, menanam varietas yang memiliki jarak tongkol dari tanah cukup tinggi, merompes daun-daun yang bersentuhan dengan tanah, menyiangi kebun, memotong bagian tanaman yang terserang dan mengaplikasikan rotasi tanaman.
Panen budidaya jagung manis
Jagung manis mulai berbunga setelah 50 hari. Sepuluh hari sebelum panen utama, sebaiknya dilakukan panen jagung muda. Pada masa ini akan tumbuh dua tongkol jagung, petik tongkol yang paling bawah. Pemanenan tongkol muda dimaksudkan agar asupan nutrisi pada tongkol utama tercukupi, sehingga hasilnya maksimal. Selain memetik tongkol muda, papaslah daun bagian bawah sebanyak 2-3 helai. Apabila muncul kembali tunas-tunas buah muda sebelum panen utama, petiklah sebagai panen tambahan. Panen utama budidaya jagung manis bisa dilakukan setelah tanaman berumur 65-75 hari.
Metode panen seperti ini cocok dilakukan untuk jenis tanaman jagung manis satu tongkol. Jenis ini digunakan luas oleh para petani di Indonesia, seperti varietas Seleksi Dramaga-2 (SD-2). Ada juga varietas jagung manis 2 tongkol, dimana dua tongkol jagung dibiarkan tumbuh hingga panen akhir.
Sumber:alamtani.com
Langganan:
Komentar (Atom)



